Beberapa
hari kemudian atau tepat setelah 40 hari kematian ayah Jodha, pesta pernikahan
antara Jodha dan Jalal akhirnya terwujud, pesta yang berlangsung sangat
sederhana dirumah Jodha itu, memang dibuat sedemikian rupa hanya untuk keluarga
besar dan orang orang terdekat saja, Jodha tidak ingin diadakan resepsi besar
besaran setelah selesai acara akad nikah, walaupun sebenarnya keluarga Jalal
bisa mewujudkannya tapi karena Jodha memaksa hanya untuk orang terdekat saja
yang bisa hadir di pesta pernikahannya, keluarga Jalal pun menyerah. Dengan
balutan kebaya berwarna putih gading dan sanggul jawa yang menghias mahkota
rambutnya, Jodha nampak kelihatan sangat anggun dan mempesona, wajah asli
keturunan orang Jawa dengan matanya yang bulat, yang selalu tidak bisa membuat
mata Jalal berkedip ketika memandangnya, ditambah hidungnya yang mancung dan bibir yang mungil semakin
melengkapi kecantikan seorang priyayi Jawa, sementara itu Jalal yang mengenakan
beskap (pakaian adat Jawa untuk pria) warna senada dengan kebaya Jodha yaitu
putih gading juga tidak kalah menawan, apalagi dilengkapi dengan blangkon warna
coklat emas yang menutupi kepalanya membuat Jalal yang memiliki wajah keturunan
Eropa itu semakin menarik dimata para tamu yang hadir, khususnya para tamu
wanita. Setelah acara akad nikah selesai, Jalal dan Jodha berbaur dengan para
tamu yang datang yang ingin memberikan ucapan selamat untuk mereka, pesta kebun
kecil kecilan yang diadakan Jodha dihari pernikahannya saat itu memang dibuat
senyaman mungkin, sehingga Jodha bisa mendatangi tamunya satu per satu dan
menyalami mereka secara langsung, begitu pula Jalal yang mendatangi tamu
tamunya juga, sehingga tercipta suasana yang santai dan kekeluargaan. “Selamat
yaa boss, akhirnya yee bisa nikah juga ama tu pere, gilingan deeeh weceee …”
Reesham langsung merepet seperti mercon bantingan begitu mendapat kesempatan
bisa dekat dengan Jalal, “Terima kasih, Reesham …” , “Trus mau honey moon
kemindang nii, boss ???” , “Honey moon ? kemana yaa ?? belum terpikirkan, masih
dalam rencana, lihat saja nanti” ujar Jalal sambil menikmati minuman yang
tersedia dimeja, sambil mencari cari keberadaan Jodha yang tiba tiba menghilang
dari sisinya, sementara itu diujung ruangan nampak Jodha sedang ngobrol dengan Moti
sahabatnya dan beberapa tamu tamu yang lain dan ketika malam menjelang, ketika
pesta telah usai dan tamu tamupun sudah meninggalkan rumah Jodha satu per satu,
Jodha langsung masuk kekamarnya dan segera mengganti kebayanya dengan piyama
kebesarannya lalu membersihkan semua riasan diwajahnya, tepat pada saat itu
Jalal masuk kekamar Jodha yang merupakan kamar pengantin mereka, dari arah
pintu Jalal memperhatikan Jodha dari pantulan kaca riasnya, sementara Jodha
hanya memandangnya sekilas dengan muka masam lalu kembali membersihkan
wajahnya, “Jangan lupa, besok kamu harus pindah kerumahku, Jodha” ujar Jalal
sambil mencopot bajunya satu per satu, Jodha hanya diam saja tidak menyahut,
setelah selesai semua dia bergegas merapikan semua perlengkapan baju yang dikenakan
Jalal lalu ditaruhnya didalam tas “Aku suka kerapian, jangan suka main taruh
barang dimana saja, itu rule number one !” kata Jodha sambil berlalu keluar
kamarnya menuju kamar mandi, tak berapa lama kemudian Jodha sudah masuk lagi
kekamarnya dengan muka yang agak sedikit basah, “Jadi masih banyak peraturan
lagi yang harus aku patuhi untuk menjadi suamimu ? apakah surat perjanjian
kemarin masih belum cukup ?” ujar Jalal yang saat itu sudah setengah berbaring
ditempat tidur, “Untuk peraturan yang tadi tidak perlu ditulis disurat perjanjian
kita tuan Jalalludin Muhammad Akbar, cukup diingat didalam otak” kata Jodha
sambil menunjuk ke samping keningnya, “Aku mau tidur, selamat malam” kata Jodha
sambil menaruh guling diantara mereka berdua lalu menatap tajam kearah Jalal
dengan muka sedikit ketus dan memutar kepalanya membelakangi Jalal sehingga
rambut panjangnya sedikit mengenai muka Jalal, aroma wangi dari rambut Jodha
membuat Jalal ingin segera memeluk istrinya itu, tapi kemudian dia teringat
kalau dirinya tidak boleh menyentuh Jodha tanpa seijinnya, Jalalpun hanya bisa
menelan ludah kemudian membaringkan tubuhnya perlahan dan mulai memejamkan
matanya. Beberapa menit kemudian ketika suasana hening mulai tercipta dikamar
Jodha, ponsel Jodha yang tergeletak diatas meja tiba tiba saja berdering sangat
keras, seketika itu juga Jodha langsung terbangun dan tersentak “Jam 12 malam … itu pasti Suryaban yang
menelfon, bodohnya aku ,,, kenapa tidak aku matikan saja itu ponsel”bathin
Jodha dalam hati, Jodha bergegas bangun dan langsung diraihnya ponsel
tersebut, disana tertera nama Suryaban
memanggil ….
RENDEZVOUS session 2 chapter 1 Catatan author : cerita ini merupakan kelanjutan perjalanan cinta kasih Jodha dan Jalal yang diterukir di Rendezvous, author sengaja menggunakan judul yang sama, agar para pembaca bisa menarik benang merah yang masih berhubungan dengan sekuel yang pertama, untuk kamu the new readers, ada baiknya untuk membaca sekuel yang pertama dulu RENDEZVOUS Dan cerita ini dimulai ketika putri sulung Jodha dan Jalal yang diberi nama Aram Bano sudah berusia 5 lima tahun Siang itu Jakarta diguyur hujan yang cukup deras, curah hujannya yang menari bagaikan ribuan kerikil yang dilempar dari atas langit, dari dalam mobil Porsche hitamnya Jodha mencoba menengok keatas melalui kaca jendela depan, hujan masih turun cukup deras, sementara kendaraan yang berada didepannya seakan enggan untuk bergerak, siang itu Jodha hanya bisa pasrah dengan kondisi yang harus di hadapinya, macet dan hujan, belum lagi kejadian tadi pagi cukup membuat Jodha mengelus dada ...
Komentar
Posting Komentar